Dedication atau biasa disebut pengabdian,
Apakah pengabdian itu?
Disini saya tidak akan membahas muluk2 apa arti dari
pengabdian di masyarakat, Negara,agama dll. Akan tetapi saya ingin sedikit
berbagi cerita tentang betapa indahnya masa-masa pengabdian di Pondok Pesantren
yang saya tempati selama 7 tahun lamanya.
Mungkin
untuk para santri/wati Pesantren Modern, istilah pengabdian sudah tak asing
lagi.Apalagi untuk para nihai,,,waahh pasti sedang masa2nya dilema en galau2an
milih antara ngabdi atau kuliah aja. Woles sist n bro..jangan keburu2 nentuin
pilihan gitu dong, baru dikasih angket aja udah panas dingin duluan
(haha,pengalaman saya tuh dulu ;p).
Mengabdi
atau menambah masa hidup anda satu tahun atau beberapa tahun di pondok bukan
sebagai santri/wati lagi,akan tetapi sebagai
ASATIDZ/ASATIDZAH. Hmm gimana yah rasanya dipanggil ustadz/ah? Gimana
rasanya keluar masuk pondok tanpa harus ribet2 izin ke bagian pengasuhan atau
riayah? Gimana rasanya ngajar formil dalam kelas? Dan yang terpenting gimana
rasanya mentransfer sedikit ilmu yang kita punya untuk para santri/wati?
Jujur,
waktu saya zaman2 nya jadi santriwati dulu NO BANGET Pokonya sama yang namanya
pengabdian.”Saya tuh gamau lohh ngabdi”
saya pengen langsung kuliah gak pake ngabdi2an. Paradigma saya waktu
dulu tuh sebelum ngerasain ngabdi gimana gitu kayanya…
Akan tetapi apa mau dikata nasib berkata lain,padahal udah
jelas2 banget itu saya nulis di angket
“ TIDAK SIAP”. Tapi ga berpengaruh guys, tetep aja ngabdi2
juga akhirnya…
dengan kata lain saya memilih ngabdi dengan TERPAKSA .
Sebulan
pun berlalu,
Waktu dibagi jadwal ngajar. “Alhamdulillah” saya dapet Mata
Pelajaran Bahasa Inggris, Ta’bir,Tahfidz,dan Tamrin Lughoh. Kenapa saya bilang
Alhamdulillah? Karena itu semua Mata pelajaran yang tidak memberatkan saya
hehe. Kalo saya dapet pelajaran Matematika,Fisika,Kimia, pasti saya bilangnya
“Allahuakbar” , kalian udah tau pasti alasannya :D. Tetapi apakah kalian tau?
Dibalik kebahagiaan saya mendapat beberapa mata pelajaran yang “Alhamdulillah” itu,
saya harus menjadi wali kelas,kelas 2 SMP Tahfidz “Masya Allah” banget kan?!
I’m so
stressed.Oh My God!!!
Di benak saya waktu itu, seorang walikelas itu harus yang
super duper perhatian sama anak didiknya, harus yang tau keadaan anak didiknya
satu persatu, harus yang bisa jelasin pas pembagian raport ke para walisantri,
dan sederet keHARUSan lainnya. Dan saya bukanlah tipe orang yang seperti itu.
Perlu kalian ketahui,saya itu orangnya simple, gamau ribet2
merhatiin orang lain, egoisnya tinggi,cuek, dan masing-masing ( my life n your
life). Lalu bagaimana dengan keadaan kelas yang saya naungi?
Jadi
begini, pertama-tama saya meminta saran dan pendapat kepada guru senior saya/
ustad/zah, bagaimana menjadi walikelas yang baik,menjelaskan diri saya yang
sebenarnya kepada mereka ( para murid kelas 2 tahfidz) bahwa saya itu orangnya
bla bla bla, saya mengutamakan keterbukaan kepada mereka, saya ingin agar
mereka menganggap saya sebagai sahabat di kala mereka mempunyai masalah, saya
ingin mereka mengaggap saya sebagai guru yang tidak suka menghakimi mereka.
Pokonya saya berusaha banget agar mereka enjoy di kelas. Saya ga minta muluk2
mereka buat jadi BINTANG PELAJAR SEMUA kok (emang bisa ya jadi bintang pelajar
sekelas ;p) saya Cuma minta “full their attention in the class”.
Oh my God! It’s really hard..
Susaaaah banget kayanya, masalahnya anak didik saya itu pelor semua ( ampun
saya mah) sampai pernah waktu itu ada Asatidz/ah nyindir saya,” Siapa sih wali kelas
2 Tahfidz? Coba itu dinasehatin anak2nya supaya jangan tidur melulu dalam kelas!!!
“ .Dalam hati saya menyangkal “ ya ampun tad, kalo antum tau nih,berkali-kali
saya nasihatin mereka sampai untung aja mulut saya ga berbusa(haha alay dikit
;p) kalo emang waktu itu Lagu Aroon
Ashab yang liriknya “ Lambaikan Tangan
ke kamera,aku tak sanggup lagi” udah tenar ,mungkin saya lah orang pertama yang
akan melambaikan tangan ke kamera
(wkwkwk). Tapi saya tidak menyerah begitu saja, berbagai cara saya coba dari mulai
mengeksekusi kegiatan mereka di asrama,
mengadakan belajar malam ( muwajahah), sampai melarikan para pengagum alam
bawah sadar di tengah lapangan basket beberapa putaran ( udah kaya qismu ‘amn
kan kerjaan saya :D). Tapi perlu saya akui memang kemampuan mereka dalam hal
penalaran dan pemahaman cukup kuat, walaupun sebenarnya saya jengkel bukan main
kalau mereka kacangin ( alias ga diperhatiin pas ngajar).
Sampai suatu ketika, saya pernah
berkata kepada mereka saking keselnya, gara-gara saya nerangin satu jam
pelajaran non stop mereka pada enak2an tidur di belakang . “ Pokoknya ustadzah
gak akan bantu kalian lagi kalau kalian tetap seperti ini, kalian tuh udah
dewasa, udah tau mana yang baik dan buruk. Apakah menurut kalian kerjaan kalian
tiap hari tidur di kelas itu baik?! Jangan harap kalian dapat nilai bagus nanti
ujian kalau terus kaya gini !!!” saya langsung keluar kelas tanpa mengucapkan
salam lagi. Mereka kaget bukan main, yang tadinya lagi asyik2 berada di pulau
kapuk, jadi pada kebangun gara-gara denger suara saya yang stereo melengking
beroktaf tinggi.
Sesampainya di kamar, saya galau.
Butuh curcol ( curhat colongan ;p ), maka siang itu siapa pun yang masuk kamar,
saya ceritakan kejadian tadi di kelas. Saya bingung harus bagaimana lagi
menghadapi anak didik saya itu, di kerasin udah, dilembutin juga udah. Setelah
kejadian itu, entahlah, mungkin mereka telah mendapatkan hidayah atau apalah.
Mereka berubah dari hari ke hari, slowly but sure. Sedikit demi sedikit tak ada lagi anak2 yang
sering tidur dalam kelas, kalaupun ada hanya mengantuk terkantuk2, dan itupun
mereka langsung sadar diri, mereka izin ke kamar mandi untuk berwudhu. Saya bersyukur atas perubahan mereka, sebagai wujud dari kebanggaan saya terhadap anak didik saya itu, maka setiap satu bulan sekali kami mengadakan makan2 bersama hihi.
TAP..TAP..NExt on tunggu cerita saya selanjutnya yaaaaa...
Posted by : Maleyha 12"

0 komentar:
Post a Comment